Menjaga Kesehatan
Awas! Kesehatan Mental Anak Terganggu karena Strict Parents
03 Apr 2024
Awas! Kesehatan Mental Anak Terganggu karena Strict Parents
03 Apr 2024

Masa pertumbuhan anak adalah masa keemasan anak untuk mengenal banyak hal. Sayangnya, hal itu bisa terbatasi karena adanya strict parents. Sehingga kebebasan anak terkungkung.

Padahal masa-masa tersebut adalah masa yang tepat untuk mengeksplorasi dunia ini. Banyak hal yang harus anak-anak ketahui di dunia luar sana. Termasuk mengenal lebih banyak teman-temannya. 

Sekilas Mengenal Strict Parents, Pentingnya Mengetahui Hal ini

Pembatasan ruang lingkup bermain serta belajar terkait banyak hal, di mana orang tua berperan besar mengaturnya sebagai pelaku utamanya disebut sebagai strict parents. Pengalaman pribadi ayah dan ibu bisa membuat Anda menjadi orangtua otoriter.

Tingginya rasa khawatir ayah dan ibu kepada anaknya menjadikan menerapkan metode pengasuhan yang otoriter dan terlalu protektif. Pada dasarnya tujuannya baik, yaitu melindungi keamanan pada anak dari kejahatan dunia luar. Misalnya penculikan. Hal ini melahirkan alasan yang menjadi ketakutan tertinggi dan tujuan lainnya untuk menjadikan anak sebagai boneka.


Meskipun cara pengasuhan seperti ini cukup baik, sayangnya, seiring perkembangan zaman sistem pengasuhan seperti ini tidak tepat diterapkan pada mereka yang tinggal di dunia modern saat ini. Terlebih sekarang ini banyak hal  baru bermunculan, contohnya kemajuan bidang teknologi, pentingnya anak harus mengetahuinya.


Namun, pembatasan rasa keingintahuan mereka dilakukan ayah dan ibunya. Sehingga membuat mental mereka terganggu. Tekanan mengganggu kehidupannya sehingga tidak leluasa mengenal dunia luar serta cara untuk memanfaatkan teknologi. Sehingga membuat anak kurang bersosialisasi. 


Selain itu, ada juga bahaya lainnya terhadap perkembangan mental anak, seperti:

  1. Kurang Percaya Diri
    Strict parents membuat anak terkekang dan sulit mengembangkan bakatnya. Sehingga hal itu menyebabkan anak tidak tahu potensi yang ada pada dirinya. Munculnya rasa tidak percaya diri, karena anak tidak yakin dirinya bisa melakukannya atas ketidaktahuannya.

    Ayah dan ibu yang otoriter mengendalikan semua yang dilakukan oleh anaknya Potensi dirinya tidak bisa mereka tunjukkan. Dia dituntut untuk beraktivitas sesuai perintah ayah dan ibunya, sehingga dia tidak melakukan apa yang mereka sukai.

    Di benak mereka penuh keraguan bila harus menunjukkan bakatnya karena diharuskan menunjukkan bakat pilihan orangtuanya. Bukan bakat yang diinginkan atau sesuai kesenangannya.

  2. Terganggunya Komunikasi Ayah dan Ibu serta Anak 
    Metode pengasuhan yang  otoriter, membuat anak tidak leluasa mengutarakan pendapat dan mengambil keputusan sendiri. Anak harus mematuhi peraturan ayah dan ibunya serta tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali.

    Renggangnya hubungan antara anak dan ayah, serta ibunya, bisa terjadi karena pengasuhan otoriter ini, sehingga membentuk anak menjadi kaku, dingin, dan membenci kedua orang tuanya.

    Bahkan, muncul kecenderungan pada anak lebih nyaman hidup bersama teman-teman. Persoalannya orangtua tidak mampu memberikan kenyamanan dalam keluarga. Sikap otoriter ayah dan ibunya bisa berdampak stress.

  3. Keinginan Melawan Peraturan Ayah dan Ibu Cukup Tinggi
    Etika agama, serta kebudayaan memberikan aturan bahwa membantah dan melawan ayah dan ibu itu dilarang. Namun, semakin dilarang keinginan untuk melawan orangtua semakin besar apabila dididik dengan cara pengasuhan otoriter oleh ayah dan ibunya.

    Karena sikap otoriter orangtua membuat anak tertekan. Sehingga ingin mendobrak setiap batasan yang ada. Maka dari itu, rasa ingin melawan orang tua sangat besar ketika dia dimarahi.

    Siapa saja yang merasa depresi atau stress ingin berteriak-teriak untuk meluapkan emosinya. Dengan demikian, seseorang bisa menjadi emosional bila terus menerus ditekan. Sehingga menimbulkan dorongan besar untuk membangkang.

  4. Emosi Tidak Terkontrol
    Sebagai peniru ulung orangtuanya, anak cenderung bersikap otoriter bila orangtua bersikap otoriter, maka anak yang bersikap sama dengan orang tuanya karena tidak bisa mengendalikan emosinya.

    Karena semua itu bisa terjadi karena meniru kedua orangtuanya. Sehingga anak cenderung kasar dan hanya ingin menuruti kata hatinya. Bahkan sebagian anak rela kabur dari rumah karena tidak tahan dengan orangtua yang emosional.

    Emosi tidak terkontrol membuat anak bisa bertindak brutal karena merasa orangtua terlalu mengekang. Padahal di usia anak, harus memiliki waktu bermain lebih banyak. Agar anak lebih terbuka terhadap sesuatu.
     
  5. Sulit Menjadi Mandiri
    Orang Tua yang selalu mengawasi dan mengontrol anaknya bisa membuat anak tidak mandiri. Bahkan privacy mereka terganggu bila selalu dikuntit orangtuanya.

    Cobalah sesekali melapangkan ruang waktu, agar terlatih mandiri. Urusan makanan dan pakaian sebaiknya dilakukan sendiri. Agar bisa mengelola dan melatih kemandirian yang berdampak besar.

    Ajari memasak agar saat ditinggal orangtua pergi, mereka bisa memasak makanannya sendiri. Terutama memasak makanan kesukaannya. Agar anak mandiri tanpa merasa ditekan.  


Sisi Positif Metode Pengasuhan Strict Parents 

Cara pengasuhan seperti itu membahayakan bagi mental anak, tetapi ada sisi positifnya juga. Karena perlu mengenal disiplin. Hidup tidak selalu bebas semaunya kita dan harus mengetahui adanya aturan yang harus dipatuhi, terutama berkaitan dengan waktu.   


Belajar kedisiplinan sewajarnya dibutuhkan anak-anak agar bisa bersikap sopan dan santun. Anda bisa saja tidak mengajarkan mereka disiplin dari sejak dini, maka bersiaplah membentuk kepribadian egois, mereka berbuat semaunya. Tidak tahu mana yang baik dan buruk. Tidak Mengindahkan waktu, ingkar janji, dan datang selalu terlambat.


Jika seperti itu terus menerus, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang harus dituruti semua kemauannya, dan dipatuhi karena kurangnya disiplin. Hal ini juga bisa membuat anak tidak mandiri dan tidak memiliki aturan untuk bersosialisasi. 


Sehingga pada akhirnya menimbulkan sikap yang tidak bisa menghargai waktu. Urusan waktu ini sangat penting untuk dijadikan pembekalan dalam kehidupan. Hal tersebut merupakan sebagian kecil hal positif dari cara pengasuhan otoriter.

Ayah dan ibu yang menetapkan cara pengasuhan otoriter menjadi pribadi yang kaku, dingin, dan tidak menyukai keinginan untuk berkembang. Karena semua terasa asing baginya.