Pasar Saham Indonesia
Pasar saham Indonesia pada perdagangan terakhir (24/09/2026) bergerak negatif dengan penurunan sebesar -76.305 poin atau -1.2% menjadi 6,298.61. Tidak ada sektor yang menunjukkan kinerja positif pada perdagangan hari bursa kemarin. Kemudian sektor yang memiliki kinerja negatif pada perdagangan hari bursa kemarin diantaranya adalah sektor Barang Baku -2.17%, Perindustrian -2.09%, Properti & Real Estat -1.66%. Sepanjang tahun, pasar saham Indonesia mencatatkan nilai jual bersih investor asing sebesar -76.96 Triliun Rupiah.
Pasar Obligasi Indonesia
Pada perdagangan terakhir (24/09/2026) mayoritas indeks obligasi pemerintah Indonesia mengalami kenaikan yield dengan rata - rata sebesar 2.23 bps. Adapun indeks obligasi yang mengalami kenaikan yield terbesar atau penurunan harga terbesar pada perdagangan kemarin adalah Indeks Obligasi Pemerintah Tenor 5 Tahun sebesar 3.63 bps, Dan indeks obligasi yang mengalami kenaikan yield terkecil atau penurunan harga terkecil pada perdagangan kemarin adalah Indeks Obligasi Pemerintah Tenor 30 Tahun sebesar 1.52 bps. Sepanjang tahun, rata - rata indeks obligasi pemerintah Indonesia telah mengalami kenaikan sebesar 93.31 bps.
Poin - Poin Penting
- Pasar saham Indonesia pada perdagangan terakhir (24/09/2026) memiliki kinerja kurang baik. Adapun, jika dilihat sejak awal tahun pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja negatif sebesar - 27.16% dengan nilai jual bersih investor asing sebesar -76.96 Triliun Rupiah. Sektor yang menjadi pemberat pasar saham Indonesia sejak awal tahun adalah sektor Properti & Real Estat -33.78%, Infrastruktur -32.78%, Teknologi -30.17%.
- Indeks yield obligasi pemerintah Indonesia pada perdagangan terakhir (24/09/2026) mayoritas mengalami kenaikan. Adapun, jika dilihat sejak awal tahun indeks yield obligasi pemerintah Indonesia mayoritas mengalami kenaikan, artinya sepanjang tahun harga obligasi pemerintah Indonesia cenderung mengalami pelemahan. Indeks tenor obligasi pemerintah yang mengalami kenaikan yield terbesar, atau penurunan harga terbesar sepanjang tahun adalah Indeks Obligasi Pemerintah Tenor 1 Tahun yaitu sebesar 187.73 bps. Sedangkan indeks tenor obligasi pemerintah yang mengalami kenaikan yield terkecil, atau penurunan harga terkecil sepanjang tahun adalah Indeks Obligasi Pemerintah Tenor 30 Tahun yaitu sebesar 49.49 bps.
- Perdagangan diwarnai katalis global dan domestik. Dari sisi global, fokus pasar tertuju pada Timur Tengah. Setelah Trump dalam pidatonya di Sidang Umum PBB menyebut AS dihadapkan pada "keputusan besar" antara berdamai atau menghancurkan Iran, dan Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dalam tujuh hari jika blokade dicabut, negosiator kedua negara kini dilaporkan menjajaki skema kesepakatan bertahap. Meski demikian, harga minyak masih terus naik sampai USD106,60/bbl atau naik sebesar 17,80% MTD (24/09). Tingginya harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi, ditambah sikap hawkish The Fed pun menguat. CME FedWatch kini memperhitungkan peluang kenaikan pada FOMC 28 Oktober sekitar 70%, sementara yield UST 10Y bertahan di kisaran 5,2% (24/09). Dari sisi domestik, keputusan RDG BI 22–23 September menahan BI-Rate di 5,75% untuk ketiga kalinya telah priced in , sehingga tidak mampu meredam tekanan eksternal. Rupiah (JISDOR) melemah ke Rp17.898/USD 0,86% MTD (24/09). Dari sisi fiskal, pasar menanti sinyal Menkeu Suahasil Nazara terkait disiplin defisit, pengelolaan utang, dan koordinasi fiskal-moneter. Secara struktural, sentimen masih dibayangi MSCI yang menunda keputusan hingga November dengan outlook negatif, S&P DJI yang mempertahankan Indonesia dalam watchlist Frontier Market, serta outlook negatif dari Moody's dan Fitch, meski S&P Global Ratings mempertahankan BBB outlook stabil. Ke depan, pasar mencermati kelanjutan negosiasi AS–Iran, rilis inflasi September Indonesia, serta berlakunya aturan baru BEI per 28 September yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 disertai penyesuaian batas ARA–ARB.