Optima Group Saving: Jaminan Kesejahteraan Tenaga Kerja dari BNI Life

14 November 2016 | Artikel

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat hingga April 2016 terdapat 4.008 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Jumlah PHK terbesar terjadi pada Januari 2016 yang mencapai 1.414 pekerja.
Hal ini menimbulkan beberapa isu diantaranya adalah paket pesangon yang terkadang tidak dapat dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawannya. Padahal perusahaan wajib memberikan imbalan kerja kepada karyawannya pada saat terjadinya pemutusan hubungan kerja dan hal tersebut diatur dalam Undang-undang nomor 13 tahun 2003 atau dikenal dengan Undang-undang ketenagakerjaan.
Sementara itu dari sisi karyawan, memiliki keyakinan akan jaminan hidup yang layak di masa mendatang menjadi salah satu faktor kunci dalam membangun motivasi, produktivitas, dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Ini pula yang menjadi semangat dari Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang menetapkan bahwa imbalan kerja saat pensiun merupakan salah satu hak yang harus diterima oleh tenaga kerja.

Undang-undang ketenagakerjaan ini mengatur imbalan pasca kerja kepada karyawan yang terlibat tindak pidana, karyawan melakukan kesalahan berat, karyawan memasuki usia pensiun, karyawan meninggal dunia, karyawan sakit berkepanjangan, karyawan mengundurkan diri, perusahaan pailit, perusahaan mengalami kerugian, dan alasan lainnya yang mengharuskan perusahaan membayar imbalan ketika karyawan sudah tidak aktif lagi bekerja.

Untuk mengantisipasi kemungkinan ter- ganggunya arus kas perusahaan akibat beban pembayaran imbalan pascakerja yang tinggi, terutama bagi perusahaan dengan jumlah karyawan yang banyak, PSAK 24 mengharuskan perusahaan untuk membukukan pencadangan atas kewajiban pembayaran imbalan kerja di dalam laporan keuangan. Untuk memenuhi kewajiban ini, perusahaan dapat memilih untuk mencadangkan dana secara mandiri, ataupun melalui pendanaan formal yaitu melibatkan pihak ketiga untuk mengelola dana yang disiapkan untuk imbalan kerja.
Denny Riadhi, Vice President Head of Employee Benefits PT BNI Life Insurance (BNI Life) menyebutkan, dengan memilih pendanaan formal maka perusahaan dapat mengonversikan kewajiban untuk alokasi imbalan pascakerja menjadi biaya dalam laporan keuangan, sehingga dapat memperoleh keuntungan berupa pemotongan pajak. Lebih penting lagi, dengan cara ini arus kas perusahaan akan lebih aman dalam jangka panjang. “Cepat atau lambat, ini kewajiban yang harus dibayarkan. Semakin dini memulai pencadangan, semakin ringan yang harus disisihkan,” ujarnya.
Denny Riadhi
Vice President Head of Employee Benefits BNI Life

Hadir sebagai solusi pendanaan formal dari BNI Life, Optima Group Saving (OGS) menawarkan perencanaan dan pengelolaan dana hari tua yang menggabungkan unsur proteksi asuransi jiwa dan investasi. Selain memberikan kenyamanan bagi karyawan karenaadanyakepastianmanfaatpesangon, tertanggung yang meninggal dunia akan mendapatkan santunan duka. Adapun dari sisi perusahaan, selain pengaturan arus kas yang terkelola lebih baik dan transparan melalui laporan evaluasi secara periodik, hal ini tentu jauh lebih efisien ketimbang membentuk badan pengelolaan dana sendiri.

“OGS adalah kendaraan bagi perusahaan yang ingin melakukan pendanaan formal. Bagi perusahaan-perusahaan yang saat ini melakukan pencadangan secara mandiri,
akan lebih baik jika diarahkan ke pendanaan formal karena keamanan dananya terjamin dan tujuannya pun akan terpenuhi,” ujar Denny. “BNI Life akan membantu perusahaan memetakan karyawan yang akan pensiun dalam tahun-tahun mendatang, melakukan manajemen aset dan liabilitas, kemudian menyusun rencana pendanaan untuk setiap bulan atau tahunnya.”
Terkait pembayaran premi, OGS menawarkan fleksibilitas pembayaran premi Back Service dan Coming Service. Pembayaran Back Service adalah premi yang dihitung berdasarkan masa kerja yang sudah dilalui sejak karyawan masuk bekerja di perusahaan sampai dimulainya program OGS. Sementara premi Coming Service dibayarkan untuk menghargai masa kerja tertanggung sejak program OGS dimulai hingga peserta mencapai akhir masa kepesertaan, yang dilakukan secara tahunan selama masa asuransi.

Di samping itu, perusahaan yang mempercayakan pengelolaan dananya pada BNI Life akan mendapatkan rekomendasi penempatan instrumen investasi yang terdiri dari obligasi, saham, deposito, maupun reksadana. “Komposisi investasinya akan disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan, serta karakteristik dari perusahaan tersebut, apakah termasuk pengambil risiko yang agresif, moderat, atau konservatif,” imbuhnya.

Hingga Desember 2015, BNI Life telah menghimpun dana kelolaan OGS sebesar Rp 250 miliar yang diperoleh dari 100 klien perusahaan, dengan pertumbuhan 5-10% setiap tahunnya. Sepanjang tahun ini, Denny menargetkan pihaknya untuk dapat mencapai pertumbuhan sebesar 15-20%. Hal ini didukung dengan indikasi meningkatnya kesadaran perusahaan-perusahaan di Indonesia terhadap pentingnya ketersediaan dana imbalan pascakerja bagi para karyawannya. l

Bagikan